Oleh: hldindonesia | April 28, 2010

Camstudio (Review terbaru!) download

Camstudio merupakan sebuah software yang dapat anda perguakan untuk “merekam” segala aktivitas anda di layar komputer ke dalam bentuk AVI file. fitur fiturnya memang masih relatif lebih sederhana ketimbang software berbayar, namun dalam ketajaman hasil video yang di hasilkan tidak kalah jauh.

Download softwarenya melalui link ini

Oleh: hldindonesia | April 28, 2010

Youtube Downloader (Review terbaru!) Dowload

Youtube merupakan situs video terpopuler di dunia, dimana kita dapat menonton beragam video secara gratis, meski sayang setiap video yang kita tonton tidak dapat kita simpan ataupun download.
Dengan menggunakan Youtube Downloader, kita dapat mendownload video video youtube yang memiliki format FLV (Flash Video), Software ini dapat pula mengkonversi format video yang telah kita download ke bentuk lain seperti AVI, WMV, atau MP3.

Download softwarenya melalui link ini

Oleh: hldindonesia | April 28, 2010

Download gambar gerak untuk HP format .gif

file ini berisi gambar-gambar seperti dibawah ini

untuk mendownload klik link berikut :

gambar gerak 1
gambar gerak 2
gambar gerak 3

Oleh: hldindonesia | April 28, 2010

download software pemotong film menjadi foto

VCD cutter (VCDCutter4.03RETAIL.zip) dapat di download disini

Oleh: hldindonesia | April 27, 2010

15 game jar download

dapat didownload disini

merupakan game untuk hp dengan format jar

Oleh: hldindonesia | April 27, 2010

1 JUTA SERIAL NUMBER DOWNLOAD

dapat di download disini

Oleh: hldindonesia | April 27, 2010

1000 lirik lagu download

berisi 1000 lirik lagu beserta kunci gitar dari banyak lagu dari Indonesia dan Luar Negeri
untuk mendownload klik disini

Oleh: hldindonesia | April 22, 2010

Antusias Belajar Fisika dengan TGT

Oleh: Ida Mintarina Nulfita
Guru SMAN 1 Padangan, Bojonegoro

Anggapan bahwa fisika merupakan pelajaran teoretik yang menjemukan, menakutkan, dan njelimet sukar dihapus dari benak siswa. Adalah tantangan bagi guru untuk membawa siswa mempelajari fisika dengan menyenangkan dan mendekatkannya pada kehidupan sehari-hari. Model pembelajaran kooperatif team games tournament (TGT) tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif untuk memudahkan siswa memahami konsep-konsep fisika.

Secara umum, pengajaran pengetahuan alam biasa disampaikan dengan model pembelajaran berikut.

Model Pengajaran Langsung (Direct Instructional/DI). Model ini dirancang untuk membantu mengembangkan siswa tentang pengetahuan prosedural (bagaimana melakukan sesuatu dan melakukan suatu eksperimen). Juga, memahami pengetahuan deklaratif (sesuatu yang dapat diungkapkan dengan kata-kata).

Model Pengajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction/PBI). Ini model pengajaran yang menyajikan kepada siswa suatu masalah yang otentik (misalnya dari TV, majalah, atau koran), yang memudahkan siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.

Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning/CL). Siswa belajar dalam kelompok kecil dengan tingkat kemampuan berbeda. Tiap anggota kelompok bekerja sama mengerjakan tugas. Belajar belum selesai jika masih ada anggota kelompok yang belum menguasai bahan pembelajaran.

Selain mencapai hasil belajar akademik, pembelajaran kooperatif juga mengembangkan keterampilan sosial siswa. Model ini diyakini mampu mengubah hasil belajar, norma, dan budaya individual pada siswa. Tutor sebaya dari kelompok atas kepada kelompok bawah memungkinkan siswa kelompok bawah mengangkat kemampuan dan kelompok atas meningkatkan kemampuan.

Ada beberapa variasi dalam pembelajaran kooperatif. Pertama, tim siswa kelompok prestasi (student teams-achievement division/STAD). Kedua, pertandingan-permainan tim (team-games-tournament/TGT). Ketiga, jigsaw berpikir- berpasangan-berbagi (think-pair-share/TPS).

Penulis memilih TGT untuk diadaptasi dalam pembelajaran fisika. Sebelumnya, guru harus menyiapkan beberapa set kartu sebagai media sesuai dengan jumlah siswa dalam kelas. Satu set kartu terdiri atas 25 kartu berisi pertanyaan dan 25 kartu berisi jawaban.

Setelah itu, TGT dilakukan sesuai langkah-langkah berikut. Fase pertama, guru membuka pelajaran. Guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa. Fase kedua, guru menyajikan materi kepada siswa. Fase ketiga, guru mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok, terdiri atas empat atau lima siswa.

Fase keempat, guru menyiapkan meja-meja turnamen. Tiap meja diisi wakil-wakil kelompok yang memiliki kemampuan setara. Guru membagikan satu set kartu ke tiap meja dan menyampaikan aturan main. Tiap siswa mengambil kartu secara bergiliran dan menjawab pertanyaan. Fase kelima, kelompok yang mendapat skor terbanyak diberi penghargaan. Fase keenam, evaluasi. Guru menutup pelajaran.

Penulis sudah mencoba model pembelajaran TGT pada beberapa konsep fisika dan hasilnya menggembirakan. Jika yang kita harapkan keaktifan siswa, suasana belajar yang menyenangkan, dan meningkatnya nilai hasil belajar, TGT bisa menjadi pilihan. Keaktifan siswa meningkat hampir seratus persen, semua siswa terlibat, suasana kelas menjadi lebih hidup, dan jumlah siswa yang tuntas belajar meningkat. Fungsi guru juga bergeser dari memberi informasi menjadi fasilitator, bergeser dari teaching ke learning.

Awalnya, guru memang harus menyediakan lebih banyak waktu untuk menyiapkan rancangan pembelajaran, membuat media. Namun, itu setimpal dengan hasilnya. Perhatian reaksi siswa ketika kartu-kartu diletakkan di atas meja. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan penuh rasa ingin tahu, tangan-tangan yang teracung, dan suasana kelas yang diselingi teriakan kemenangan dari tiap meja.

Arends dan pakar pembelajaran lain berpendapat, tidak ada model pengajaran yang lebih baik daripada model pengajaran lain. Tidak cukup bagi guru hanya bergantung pada satu pendekatan atau metode pembelajaran. Guru perlu menguasai berbagai model pengajaran sehingga dapat memilih model yang baik untuk mencapai tujuan tertentu sesuai lingkungan belajar atau siswa tertentu. Guru yang kreatif akan belajar mengadaptasi berbagai model sesuai dengan situasi pembelajaran yang dihadapi. (soe)

sumber : http://www.klubguru.com/2-view.php?subaction=showfull&id=1236248502&archive=&start_from=&ucat=2&do=artikel

Penjabaran

Secara umum TGT sama saja dengan STAD kecuali satu hal : TGT menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim yang lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka. TGT sangat sering digunakan dan dikombinasikan dengan STAD, dengan menambahkanturnamen tertentu pada struktur STAD yang biasanya. Deskripsi dan komponen-komponen TGT adalah sebagi berikut :

a. Presentasi di Kelas

Materi dalam TGT pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering kali dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi bisa juga memasukkan presentasi audiovisual. Bedanya presentasi kelas dengan pengajaran biasa hanylah bahwa presentasi tersebut harus benar-benar berfokus pada unit TGT. Dengan cara ini para siswa akan menyadari bahwa mreka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan sngat membantu mereka mengerjakan kuis-kuis, dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka

b. Tim

Tim terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnis. Fungsi utama dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar dan lebih khusunya lagi untuk mempersiapkan angotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru menyampaikan materinya tim berkumpul untuk mempelajari lembar kegiatan atau materi lainnya. Yang paling sering terjadi, pembelajaran itu melibatkan pembahasan permasalahan bersama, membandigkan jawaban dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan.

Tim adalah fitur yang paling penting dalam TGT. Pada tiap poinnya, yang ditekan adalah membuat anggota tim melakukan yang terbaik untuk tim, dan tim itu harus melakukan yang terbaik untuk membantu anggotannya. Tim ini memberikan dukungan kelompok bagi kinerja akademik penting dalam pembelajaran, dan itu adalah memberikan perhatian dan respk yang mutual yang peting untuk akibat yang dihasikan seperti hubungan antar kelompok, rasa harga diri, penerimaan terhadap siswa-siswa mainstream

c. Game

Game dalam TGT terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang kontennya relevan dan dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperolehnya dari presentasi di kelas dan pelaksanaan kerja tim. Game tersebut dimainkan di atas meja dengan tiga orang siswa, yang masing-masing mewakili tim yang berbeda. Kebanyakan game berupa nomor-nomor pertanyaan yang ditulis pada lembar yang sama. Seorang siswa mengambil sebuah kartu bernomor yang tertera pada kartu tersebut. Sebuah aturan tentang penanyang memperbolehkan para pemain saling menantang jawaban masing-masing.

d. Turnamen

Turanamen adalah sebuah struktur di mana game berlangsung. Biasanya berlangsung pada akhir minggu atau akhir unit, setelah guru memberikan presentasi di kelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan. Pada turnamen pertama, guru menunujuk siswa untuk berada di meja turnamen, tiga siswa berprestasi tinggi pertama di meja 1, tiga berikutnya di meja 2 , dan seterusnya. Kompetisi yang seimbang ini , seperti halnya sistem skor kemajuan individual dalam STAD, memungkinkan para siswa dari semua tingkat kinerja sebelumnya berkontribusi secara maksimal terhadap skor tim mereka jika mereka melakukan yang terbaik.

Setelah turnamen pertama, para siswa akan bertukar meja tergantung pada kinerja mereka pada turnamen terakhir. Pemenang pada tiap meja “ naik tingkat” ke meja berikutnya yang lebih tinggi, skor teringgi kedua tetap tingal dimeja yang sama; dan yang skornya paling rendah “diturunkan”. Dengan cara ini, jika pada awalnya siswa sudah salah ditempatkan, untuk seterusnya mereka akan dinaikan atau dirueunkan sampai mereka mencapai tingkat kinerja mereka yang seungguhnya.

e. Rekognisi Tim

Tim akan memperoleh sertifikat atau bentuk pengargaan yang lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu. Skor tim siswa dapat juga digunakan untuk menentukan dua puluh persen dari peringkat mereka.

Persiapan

a. Materi

Materi kurikulum TGT sama saja dengan STAD, kecuali perlu menyiapkan kartu-kartu bernomor dari nomor satu sampai tigapuluh untuk tiap tiga orang anak.

b. Menempatkan siswa dalam tim

Dalam menmpatkan siswa dalam beberap tim kita dapat mengikuti langkah-langkah beruikut ini :

* Memfotokopi lembar rangkuman tim.

Buatlah kopian dari lembar rangkuman tim untuk setiap empat siswa dalam satu kelas.

Susun peringkat siswa.

Pada selembar kertas, buatlah urutan perigkat siswa dalam satu kelasdari yang teringgi samapi yang terendah. Gunakan informasi apapun yang dimilki untuk melakukan hal ini; nilai ujian adalah yang terbaik, kualitas masing – masing juga baik, tetapi menggunakan penilaian sendiri juga tidak apa – apa. Memang afak sulit membuat peringkat dengan tepat, tetapi lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan.

* Tentukan berdasarkan jumlah tim.

Tiap tim harus terdiri dari empat anggota jika memungkinkan. Untuk menentukan berapa tim yang akan dibentuk, jumlah siswa dikelas dibagi empat, hasil bagi tersebut tentunya jumlah tim beranggotakan empat orang. Misalnya, di dalam kelas ada 32 orang, maka akan membentuk delapan tim yang masing-masing beranggotakan empat orang. Jika pembagian tersebut tidak genap, siswanya bisa jadi berjumlah satu, dua, atau tiga orang. Selanjutnya akan ada tim yang beranggotakan lima orang.

* Bagikan siswa kedalam tim

Dalam membagi siswa ke dalam tim, seimbangkan timnya supaya :

1. Tiap tim terdiri atas level yang kinerjannya berkisar dari yang rendah, sedang dan tinngi
2. Level kinerja yang sedang dari semua tim yang ada di kelas hendaknya setara.

Gunakan peringkat siswa berdasarkan kinerjannya, bagikan huruf tim kepada tiap-tiap siswa. Misalnya dalam delapan tim yang ada di dalam kelas kita menggunakan huruf A sampai H.

c. Menempatkan siswa ke dalam meja turnamen

Buatlah kopian lembar penempatan meja turnamen. Pada lembar tersebut isilah daftar nama siswa dari atas ke bawah sesuai urutan kinerja siswa, gunakan peringkat yang sama seperti yang akan digunakan untuk membentuk tim. Hitunglah jumlah siswa di dalam kelas. Jika jumlahnya habis di bagi tiga, semua meja turanamen akan mempunyai tiga peserta, tunujuklah tiga siswa pertama dari daftar untuk ,menempati meja 1, berikutnya meja 2, dan seterusnya. Jika ada siswa yang tersisa setelah dibagi tiga, satu atau dua meja turnamen yang pertama akan beranggotakan empat peserta. Misalnya, sebuah kelas dengan 29 siswa mempunyai sembilan meja turnamen, dua diantarannya akan mempunyai empat anggota. Empat siswa pertama dari daftar peringkatakan ditempatkan di meja 1, dan empat berikutnya pada meja 2, dan tiap tiga orang sisanya pada meja-meja yang lain. Penentuan nomor meja ini hanya untuk meja kepada anak-anak, sebutkah meja-meja tersebut sebagai meja biru, merah, hijau dan sebagainya dalam urutan yang acak supaya para siswa tidak akan tahu bagaimana cara penyusun penempatan meja tersebut.

d. Memulai Turnamen

Pada awal periode permainan,umumkanlah penempatan meja turnamen dan mintalah mereka memindahkan serta menyusun meja bersama-sama. Acaklah nomor-nomornya supaya para siswa tidak tahu mana meja atas atau meja bawah dan mintalah salah satu siswa membagikan satu lembar permainan,satu lembar jawaban,satu kotak kartu nomor dan satu lembar skor permainan pada tiap meja.

Untuk memulai permaianan, para siswa menarik kartu untuk menentukan pembaca pertama yaitu yang menarik nomor tertinggi. Permainan berlangsung sesuai waktu dimulai dari pembaca pertama.

Pembaca pertama mengocok kartu dan mengambil kartu yang teratas. Dia lalu membacakan dengan ker
as soal yang berhubungan dengan nomor yang ada pada kartu, ermasuk pilihan jawabannya, jika soalnya pilihan ganda. Pembaca yang tidak yakin akan jawabannya diperbolehkan menebak tanpa dikenai sanksi. Jika konten dalam permainan tersebut melibatkan permasalahan, semua siswa harus mengerjakan permasalahan tersebut supaya mereka siap untuk ditantang. Setelah si pembaca memberikan jawaban, siswa yang ada disebelah kiri atay kanannya punya opsi untuk menantang dan memberikan jawaban yang berbeda dengan peserta pertama. Jika dia ingin melewatinya, atau bila penanantang kedua mempunyai jawaban yang berbeda dengan dua peserta pertama, maka penantang kedua boleh menantang. Akan tetapi, penentang harus hati hati karena mereka harus mengembalikan kartu yang telah dimenangkan sebelumnya kedalam kotak (jika ada) apabila jawaban yang mereka berikan salah.Apabila semua peserta punya jawaban , di tantang, akan melewati pertanyaan , penantang kedua (atau peserta yang ada di sebelah kanan pembaca) memeriksa jawaban dan membacakan jawaban yan benar dengan keras.Si pemain yang memberikan jawaban yang benar akan menyimpan kartunya.Jika kedua penantang memberikan jawaban yang benar akan menyimpan kartunya .Jika penantang memberikan jawababan yang salah , dia harus mengembalikan kartu yang telah dimenangkan (jika ada) ke dalam books.

Untuk putaran berikutnya, semuannya begerak satu posisi ke kiri, penantang pertama menjadi pembaca, penantang kedua menjadi penantang pertama, dan si pembaca menjadi penentang kedua. Permainan berlanjut, seperyi yang telah ditentukan oleh guru, sampai periode kelas berakhir atau kotaknya telah kosong.

Aturan Permaianan TGT

Pembaca

- Ambil kartu bernomor dan carilah soal yang berhubungan dengan nomor tersebut pada lembar permaianan

- Bacalah pertanyaannya dengan keras

- Cobalah untuk menjawab

Penantang 1

- Menantang jika dia mau (dan memberika jawaban berbeda) atau boleh melewatinya

Penantang 2

- Boleh menantang jika penantang 1 melewati dan jika dia mau. Apabila semua penantang sudah menantang atau melewati, penantnag 2 memeriksa lembar jawaban. Siapa pun yang jawabannya benar berhak menyimpan kartunya. Jika si pembaca salah,tidak ada sanksi,tetapi jika kedua penantangnya salah maka dia harus mengembalikan kartu yang telah dimenangkannya ke dalam kotok,jika ada.

- Untuk putaran berikutnys,semuanya bergerak satu posisi ke kiri: penantang 1 menjadi pembaca,penantang 2 menjadi penantang 1 dan si pembaca menjadi penantang kedua.

e. Menentukam skor tim

Segera setelah turnamen selesai, tentukanlah skor tim dan persiapkan sertifikat tim untuk memberi rekognisi kepada tim peraih skor tertinggi. Untuk melakukan hal ini pertama-tama kita harus memeriksa poin-poin turnamen dari tiap siswa tersebut ke lembar skor permaianan.

f. Merekognisi Tim Berprestasi

sumber : http://fatonipgsd071644221.wordpress.com/2009/12/27/model-pembelajaran-sd-team-group-tournament-tgt/

Oleh: hldindonesia | April 22, 2010

COOPERATIVE LEARNING

Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian,tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar peserta didik membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif di antara peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap peserta didik mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat pada peserta didik dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif peserta didik lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal. Model pembelajaran kooperatif memungkinkan semua peserta didik dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar.

Ada 4 macam model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Arends (2001),yaitu; (1) Student Teams Achievement Division (STAD), (2) Group Investigation, (3)Jigsaw, dan (4) Structural Approach. Sedangkan dua pendekatan lain yang dirancanguntuk kelas-kelas rendah adalah; (1) Cooperative Integrated Reading and Compositio(CIRC) digunakan pada pembelajaran membaca dan menulis pada tingkatan 2-8(setingkat TK sampai SD), dan Team Accelerated Instruction (TAI) digunakan padapembelajaran matematika untuk tingkat 3-6 (setingkat TK).

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah; (1) belajar bersama dengan teman, (2)selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman, (3) saling mendengarkan pendapat di antara anggota kelompok, (4) belajar dari teman sendiri dalam kelompok, (5) belajar dalam kelompok kecil, (6) produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat, (7) keputusan tergantung pada mahasiswa sendiri, (8) mahasiswa aktif (Stahl, 1994).

Senada dengan ciri-ciri tersebut, Johnson dan Johnson (1984) serta Hilke (1990) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah; (1) terdapat saling ketergantungan yang positif di antar anggota kelompok, (2) dapat dipertanggungjawabkan secara individu, (3) heterogen, (4) berbagi kepemimpinan, (5) berbagi tanggung jawab, (6) menekankan pada tugas dan kebersamaan, (7) membentuk keterampilan sosial, (8) peran guru/dosen mengamati proses belajar peserta didik. (9) efektivitas belajar tergantung pada kelompok. Proses belajar terjadi dalam kelompok-kelompok kecil (3-4 orang anggota), bersifat heterogen tanpa memperhatikan perbedaan kemampuan akademik, jender, suku, maupun lainnya
Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif

Kelebihan model pembelajaran kooperatif yaitu:
a. Meningkatkan harga diri tiap individu
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu yang lebih besar.
c. Konflik antar pribadi berkurang
d. Sikap apatis berkurang
e. Pemahaman yang lebih mendalam
f. Retensi atau penyimpanan lebih lama
g. Meningkatkan kebaikan budi,kepekaan dan toleransi.
h. Model pembelajaran kooperatif dapat mencegah keagresivan dalam sistem kompetisi dan keterasingan dalam sistem individu tanpa mengorbankan aspek kognitif.
i. Meningkatkan kemajuan belajar(pencapaian akademik)
j. Meningkatkan kehadiran siswa dan sikap yang lebih positif
k. Menambah motivasi dan percaya diri
l. Menambah rasa senang berada di sekolah serta menyenangi temanteman sekelasnya
m. Mudah diterapkan dan tidak mahal

Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif yaitu:
a. Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan dikelas. Kondisi seperti ini dapat diatasi dengan guru mengkondisikan kelas atau pembelajaran dilakukan di luar kelas seperti di laboratorium matematika, aula atau di tempat yang terbuka.
b. Banyak siswa tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lain. Siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam grup mereka, sedangkan siswa yang kurang mampu merasa minder ditempatkan dalam satu grup dengan siswa yang lebih pandai. Siswa yang tekun merasa temannya yang kurang mampu hanya menumpang pada hasil jerih payahnya. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan sebab dalam model pembelajaran kooperatif bukan kognitifnya saja yang dinilai tetapi dari segi afektif dan psikomotoriknya juga dinilai seperti kerjasama diantara anggota kelompok, keaktifan dalam kelompok serta sumbangan nilai yang diberikan kepada kelompok.
c. Perasaan was-was pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik atau keunikan pribadi mereka karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok. Karakteristik pribadi tidak luntur hanya karena bekerjasama dengan orang lain, justru keunikan itu semakin kuat bila disandingkan dengan orang lain.
d. Banyak siswa takut bahwa pekerjaan tidak akan terbagi rata atau secara adil, bahwa satu orang harus mengerjakan seluruh pekerjaan tersebut. Dalam model pembelajaran kooperatif pembagian tugas rata, setiap anggota kelompok harus dapat mempresentasikan apa yang telah didapatnya dalam kelompok sehingga ada pertanggungjawaban secara individu.
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang dapat memotivasi belajar siswa dimana kekurangan yang mungkin terjadi dapat diminimalisirkan.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigasi

Model pembelajaran kooperatif telah diyakini oleh banyak ahli pendidikan sebagai model pembelajaran yang dapat memberi peluang siswa untuk terlibat dalam diskusi, berpikir kritis, berani dan mau mengambil tanggung jawab untuk pembelajaran mereka sendiri (Gokhale, 1995:6).
Model ini dapat dipakai untuk mengembangkan kreativitas siswa, baik secara perorangan maupun kelompok. Model pembelajaran kooperatif dirancang untuk membantu terjadinya pembagian tanggung jawab ketika siswa mengikuti pembelajaran dan berorientasi menuju pembentukan manusia sosial (Mafune,2005:4).
Model pembelajaran kooperatif dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif, sebab siswa akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan (contructing) dan penciptaan, kerja dalam kelompok dan berbagi pengetahuan serta tanggung jawab individu tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.

Asumsi pengembangan pembelajaran kooperatif tipe group investigasi, yaitu

(1) untuk meningkatkan kemampuan kreativitas siswa dapat ditempuh melalui pengembangan proses kreatif menuju suatu kesadaran dan pengembangan alat bantu yang secara eksplisit mendukung kreativitas, (2) komponen emosional lebihpenting daripada intelektual, yang tak rasional lebih penting daripada yang rasional dan (3) untuk meningkatkan peluang keberhasilan dalam memecahkan suatu masalah harus lebih dahulu memahami komponen emosioanl dan irrasional.

Pembelajaran Kooperatif tipe STAD.

Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu. Tipe pembelajaran inilah yang akan diterapkan dalam pembelajaran matematika.

Tahap pelaksanaan pembelajaran model STAD.
a. Persiapan materi dan penerapan siswa dalam kelompok.
Sebelum menyajikan guru harus mempersiapkan lembar kegiatan dan lembar jawaban yang akan dipelajarai siswa dalam kelompok-kelomok kooperatif. Kemudian menetapkan siswa dalam kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4 – 6 orang, aturan heterogenitas dapat berdasarkan pada :
(1). Kemampuan akademik (pandai, sedang dan rendah)
Yang didapat dari hasil akademik (skor awal) sebelumnya. Perlu diingat pembagian itu harus diseimbangkan sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa dengan siswa dengan tingkat prestasi seimbang.
(2). Jenis kelamin, latar belakang sosial, k
esenangan bawaan/sifat (pendiam dan aktif), dll.
b. Penyajian materi pelajaran, ditekankan pada ha-hal berikut :
(1) Pendahuluan
Di sini perlu ditekankan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok dan menginformasikan hal yang penting untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari.
(2) Pengembangan
Dilakukan pengembangan materi yang sesuai yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Di sini siswa belajar untuk memahami makna bukan hafalan. Pertanyaan-peranyaan diberikan penjelasan tentang benar atau salah. Jika siswa telah memahami konsep maka dapat beralih kekonsep lain.
(3) Praktek terkendali
Praktek terkendali dilakukan dalam menyajikan materi dengan cara menyuruh siswa mengerjakan soal, memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan masalah agar siswa selalu siap dan dalam memberikan tugas jangan menyita waktu lama.
c. Kegiatan kelompok
Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa. Isi dari LKS selain materi pelajaran juga digunakan untuk melatih kooperatif. Guru memberi bantuan dengan memperjelas perintah, mengulang konsep dan menjawab pertanyaan.
d. Evaluasi
e. Penghargaan kelompok
f. Perhitungan ulang skor awal dan pengubahan kelompok

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Langkah-langkah:
1) Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang
2) Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda
3) Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
4) Setelah kelomppok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali kekelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang subbab yang mereka kuasai
5) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
6) Pembahasan
7) Penutup

Model pembelajaran koopertif tipe TGT (Teams-Games-Tournament).

Metode : Diskusi, Informasi, Tanya jawab, Kuiz, Pemberian Tugas

KEGIATAN PEMBELAJARAN

A. Pendahuluan (± 10 menit)

1. Menyampaikan tujuan pembelajaran.

2. Meminta beberapa siswa untuk membantu menempelkan media

pembelajaran: papan “Destinasi” dan papan skor di papan tulis.

3. Memotivasi siswa dengan menjelaskan bahwa skor yang diperoleh

pada games dan tournament, baik skor individu maupun skor

kelompok adalah salah satu komponen penilaian yang penting.

B. Inti ((± 70 menit)

1. Menyajikan informasi tentang aturan games dan tournament, baik

secara lisan maupun dengan demonstrasi.

2. Meminta siswa untuk duduk dalam tatanan kooperatifnya masingmasing.

3. Membantu siswa membentuk kelompok (teams), sehingga transisi

ini berjalan secara efisien.

4. Memulai games dan tournament.

5. Membimbing siswa apabila mengalami kesulitan saat melakukan

kegiatan, sambil melatihkan keterampilan-keterampilan kooperatif:

menyampaikan pendapat/menjawab pertanyaan; menjadi pendengar

yang aktif; dan menghargai berbagai perbedaan antar individu.

6. Mengakhiri games dan tournament.

C. Penutup ((± 10 menit).

1. Bersama-sama siswa melakukan evaluasi/refleksi terhadap

kegiatan yang telah dilakukan baik dari sisi materi pembelajaran

yang direviu pada games dan tournament; maupun dari sisi

keterampilan kooperatif yang sedang dilatihkan oleh guru.

2. Memberikan penghargaan kepada usaha-usaha yang telah

dilakukan kelompok (teams), maupun usaha-usaha individu dalam

bentuk komentar yang sifatnya positif.

3. Memberikan tugas baca untuk menghadapi ulangan harian.

sumber : http://ayobelajarfisika.blogdetik.com/2009/09/06/metode-pembelajaran-kooperatif/

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.